Kuliah Kebidanan

Penyediakan Materi Ilmu Kebidanan

Penanganan Pasien Post Laparatomy Atas Indikasi Ileus Obstruksi di ICU

INTENSIVE CARE UNIT

Pendahuluan

Intensive Care Unit (ICU) adalah suatu bagian dari rumah sakit yang terpisah, dengan staf dan perlengkapan yang khusus yang ditujukan untuk observasi, perawatan dan terapi pasien-pasien yang menderita penyakit, cedera atau penyulit- yang mengancam jiwa atau potensial mengancam jiwa dengan prognosis dubia. ICU menyediakan kemampuan dan sarana, prasarana serta peralatan khusus untuk menunjang fungsi-fungsi vital dengan menggunakan keterampilan staf medik, perawat dan staf lain yang berpengalaman dalam pengelolaan keadaan-keadaan tersebut.1

Kematian pasien yang mengalami pembedahan terbanyak timbul pada saat pasca bedah. Pada sekitar tahun 1860, Florence Nightingale mengusulkan untuk melanjutkan pengawasan pasien yang ketat selama intraoperatif oleh anestesis sampai ke masa pasca bedah. Dimulai sekitar tahun 1942, Mayo Clinic membuat suatu ruangan khusus dimana pasien-pasien pasca bedah dikumpulkan dan diawasi sampai sadar dan stabil fungsi-fungsi vitalnya, serta bebas dari pengaruh sisa obat anestesi. Keberhasilan unit pulih sadar merupakan awal dipandang perlunya untuk melanjutkan pelayanan serupa tidak pada masa pulih sadar saja, namun juga pada masa pasca bedah.1

Pada saat ini ICU modern tidak terbatas menangani pasien pasca bedah atau ventilasi mekanis saja, namun telah menjadi cabang ilmu sendiri yaitu intensive care medicine. Ruang lingkup pelayanannya meliputi pemberian dukungan fungsi organ-organ vital seperti pernapasan, kardiosirkulasi, susunan saraf pusat, renal dan lain-lainnya, baik pada pasien dewasa atau pasien anak.1

Indikasi ICU

Indikasi Pasien dirawat di ICU2 :

1. Pasien sakit berat, kritis, dan tidak stabil misal pasien pasca operasi bedah mayor

2. Pasien yang memerlukan pemantauan intensive

3. Pasien yang mengalami komplikasi akut seperti : Edema paru ( kardiogenik dan non kardiogenik )

Indikasi pasien keluar dari ICU2 :

1. Pasien tidak memerlukan lagi terapi intensive karena membaik dan stabil

2. Terapi intensive tidak bermanfaat pada :

- Pasien Usia lanjut ( > 65 tahun) yang mengalami gagal tiga organ atau lebih, setelah di ICU selama 72 jam

- Pasien mati batang otak/koma yang mengalami keadaan vegetatif

- Pasien dengan berbagai macam diagnosis seperti penyakit paru Obstruksi menahun, kanker dengan metastasis dan gagal jantung terminal

Gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit sangat sering terjadi pada pasien usia lanjut (usila). Gangguan tersebut meliputi dehidrasi, hipernatremia, hiponatremia. Dalam penatalaksanaan keseimbangan cairan dan elektrolit pada usila, pengertian mengenai perubahan fisiologi yang menjadi faktor predisposisi gangguan tersebut sangat penting. Secara umum, terjadi penurunan kemampuan homeostatik seiring bertambahnya usia. Secara khusus terjadi penurunan respon haus terhadap kondisi hipovolemik dan hiperosmolaritas. Disamping itu terjadi penurunan laju filtrasi glomerolus, kemampuan fungsi konsentrasi ginjal, renin, aldosteron, dan penurunan respon ginjal terhadap vasopresin. Peningkatan kadar atrial natriuretic peptide (APN) akan menyebabkan supresi sekresi renin ginjal, aktivitas renin plasma, angiotensin II plasma dan kadar aldosteron. Selain efek kehilangan natrium dari ginjal secara tidak langsung ini APN juga menimbulkan akibat hilangnya natrium dari ginjal melalui kerja natriuretik langsungnya sehingga terjadi gangguan kapasitas ginjal untuk menahan natrium3

Sebagai konsekuensi perubahan-perubahan ini, kapasitas seseorang yang berusia lanjut menghadapi berbagai penyakit, obat-obatan dan stres fisiologis menjadi berkurang sehingga meningkatkan resiko timbulnya perubahan keseimbangan cairan dan natrium yang signifikan secara klinis3

Cairan tubuh

Total cairan tubuh bervariasi menurut umur, berat badan dan jenis kelamin. Cairan terrgantung lemak tubuh. Lemak tubuh tidak berair, semakin banyak lemak semakin kurang cairan. Laki-laki dewasa normal yang berlemak sedang, megandung cairan kira-kira 60 % BB. Wanita normal dewasa kira-kira 54 % BB.4

1. Kompartemen

Secara fungsional dibagi 2 kompartemen utama, yaitu kompartemen intra seluler dan ekstraseluler. Kompartemen intraseluler kira-kira 40 % BB. Kompartemen ekstraseluler terdiri dari 5 % cairan plasma dan 15 % cairan interstisial. Kompartemen transeluler, merupakan kompartemen tambahan, terdiri dari hasil metabolisme sel, bahan-bahan sekresi gastrointestinal dan urine.4

2. Isi cairan tubuh

Ada 2 jenis bahan yang terlarut di dalam cairan tubuh, yaitu elektrolit dan non elektrolit. Non elektrolit ialah molekul-molekul yang tetap tidak berubah menjadi partikel, terdiri dari dekstrose, ureum dan kreatinin. Elektrolit ialah molekul-molekul yang pecah menjadi partikel bermuatan listrik (ion) yakni kation dan anion. Jumlah total kation selalu sama dengan anion. Pada ekstraseluler (plasma dan interstisial) konsentrasi NaCl dan bikarbonat lebih tinggi dan kalium rendah. Pada intraseluler, konsentrasi K, Mg dan HPO4 lebih tinggi sedang Na dan Cl relatif rendah. Komposisi elektrolit plasma dan interstisial hampir sama, kecuali di dalam interstitial tidak mengandung protein. Karena konsentrasi elektrolit dalam plasma mudah dinilai, maka analisa plasma merupakan pedoman terapi yang penting. Fungsi elektrolit adalah ikut mengatur volume cairan tubuh melalui tekanan osmotik dan mempertahankan keseimbangan asam basa tubuh.4

Pengaruh stress terhadap metabolisme

Akibat stess anestesi dan pembedahan, terjadi kecenderungan retensi cairan, kehilangan K, retensi Na, kecenderungan asidosis, metebolisme energi seperti diabetes, terjadi katabolisme protein dan pengurang sintesa protein. Mengingat keadaan metabolisme pasca stress pembedahan menyebabkan timbulnya keadaan osmotik hipotonik akibat ADH yang dapat menimbulkan hiperaldosterone sekunder, maka untuk menghindari perlu diberikan cairan yang mengandung Na lebih tinggi4.

Pemberian cairan pasca bedah

  1. Hari 1-3 pasca bedah diberikan :

- 2000 ml dextrose 5 % dan 500 ml NaCl. Total intake cairan disesuaikan dengan BB (40 ml/kgBB)

- Minimal kalori untuk pencegahan katabolisme protein dan lemak 400 kalori

- Perhitungan kebutuhan elektrolit terutama setelah 3 hari, dimana produksi urin biasanya bertambah banyak.

  1. Bila ada larutan tutofusin OPS yang mengandung cukup elektrolit dan sorbitol sebagai sumber karbohidrat, dapat diberikan 40 ml/kgBB/hari untuk 1-3 hari pertama pasca bedah.
  2. Bila diperlukan lebih lama pemberian cairan untuk nutrisi, maka dapat ditambahkan asam amino berupa Aminofusin yang kebutuhannya disesuaikan dengan BB dan besarnya trauma. Kebutuhan asam amino rata-rata 1 gr/kgBB/hari. Aminofusin L 600, mengandung 50 gr asam amino/liter dan 600 kalori/liter. 4

ILEUS

Definisi

Ileus Obstruktif adalah kerusakan atau hilangnya pasase isi usus yang disebabkan oleh sumbatan mekanik.5

Etiologi

adapun etiologi dari ileus obstruksi ialah :

a) Adhesi

b) Hernia inkarserata

c) Askariasis

d) Tumor

e) Lain-lain :

· Radang khronik (TBC)

· Divertikulum meckel

· Invaginasi

· Volvulus

· Obstruksi makanan 6

Etiologi Ileus Obstruksi6

Patofisiologi7

Peristiwa patofisiologik yang terjadi setelah obstruksi usus adalah sama, tanpa memandang apakah obstruksi tersebut diakibatkan oleh penyebab mekanik atau fungsional. Perbedaan utama adalah obstruksi paralitik di mana peristaltik dihambat dari permulaan, sedangkan pada obstruksi mekanik peristaltik mula-mula diperkuat, kemudian intermitten, dan akhirnya hilang.

Perubahan patofisiologi utama pada obstruksi usus dapat dilihat pada Gambar-3. Lumen usus yang tersumbat secara progresif akan teregang oleh cairan dan gas (70% dari gas yang ditelan) akibat peningkatan tekanan intralumen, yang menurunkan pengaliran air dan natrium dari lumen ke darah. Oleh karena sekitar 8 liter cairan diekskresikan ke dalam saluran cerna setiap hari, tidak adanya absorpsi dapat mengakibatkan penimbunan intralumen dengan cepat. Muntah dan penyedotan usus setelah pengobatan dimulai merupakan sumber kehilangan utama cairan dan elektrolit. Pengaruh atas kehilangan ini adalah penciutan ruang cairan ekstrasel yang mengakibatkan syok—hipotensi, pengurangan curah jantung, penurunan perfusi jaringan dan asidosis metabolik. Peregangan usus yang terus menerus mengakibatkan lingkaran setan penurunan absorpsi cairan dan peningkatan sekresi cairan ke dalam usus. Efek lokal peregangan usus adalah iskemia akibat distensi dan peningkatan permeabilitas akibat nekrosis, disertai absorpsi toksin-toksin bakteri ke dalam rongga peritoneum dan sirkulasi sistemik untuk menyebabkan bakteriemia.

Diagnosis 8,9

1. Subyektif –Anamnesis

Gejala Utama:

· Nyeri-Kolik: kolik dirasakan disekitar umbilikus

· Muntah : Berwarna kehijauan

· Perut Kembung (distensi)

· Konstipasi : dapat tidak ada defekasi, dan flatus

· Adanya benjolan di perut, inguinal, dan femoral yang tidak dapat kembali menandakan adanya hernia inkarserata

· Invaginasi dapat didahului oleh riwayat buang air besar berupa lendir dan darah.

· Riwayat operasi sebelumnya dapat menjurus pada adanya adhesi usus

· Onset

o keluhan yang berlangsung cepat dapat dicurigai sebagai ileus letak tinggi

o onset yang lambat dapat menjurus kepada ileus letak rendah.

2. Obyektif-Pemeriksaan Fisik

Inspeksi

Perut distensi, dapat ditemukan darm kontur dan darm steifung. Benjolan pada regio inguinal, femoral dan skrotum menunjukkan suatu hernia inkarserata. Pada Invaginasi dapat terlihat massa abdomen berbentuk sosis. Adanya adhesi dapat dicurigai bila ada bekas luka operasi sebelumnya

Auskultasi

Hiperperistaltik, bising usus bernada tinggi. Pada fase lanjut bising usus dan peristaltik melemah sampai hilang

Perkusi Hipertimpani

Palpasi

Kadang teraba massa seperti pada tumor, invaginasi, hernia.

Rectal Toucher

Ø Isi rektum menyemprot : Hirschprung disease

Ø Darah (+) ; strangulasi, neoplasma

Ø Feses yang mengeras : skibala.

Ø Feses negatif : obstruksi usus letak tinggi

Ø Ampula rekti kolaps : curiga obstruksi.

Ø Nyeri tekan : lokal atau general peritonitis

Radiologi Foto Polos:

Pelebaran udara usus halus atau usus besar dengan gambaran anak tangga dan air-fluid level.

Penggunaan kontras dikontraindikasikan adanya perforasi-peritonitis.

Barium enema diindikasikan untuk invaginasi

endoskopi disarankan pada kecurigaan volvulus

Penatalaksanaan 5,6,10

* Konservatif Penderita dirawat di rumah sakit dan dipuasakan

Kontrol status airway, breathing and circulation.

Dekompresi dengan nasogastric tube.

Intravenous fluids and electrolyte

Dipasang kateter urin untuk menghitung balance cairan.

* Farmakologis Antibiotik broadspectrum untuk bakteri anaerob dan aerob. Analgesik apabila nyeri

* Operatif

Obstruksi usus dengan prioritas tinggi adalah strangulasi, volvulus, dan jenis obstruksi kolon.

Operasi dilakukan setelah rehidrasi dan dekompresi nasogastric untuk mencegah sepsis sekunder atau rupture usus.

Operasi diawali dengan laparotomi kemudian disusul dengan teknik bedah yang disesuaikan dengan hasil explorasi melalui laparotomi.

Komplikasi 6,9

Komplikasi dari ileus antara lain terjadinya nekrosis usus, perforasi usus, Sepsis, Syok-dehidrasi, Abses Sindrom usus pendek dengan malabsorpsi dan malnutrisi, Pneumonia aspirasi dari proses muntah, Gangguan elektrolit, Meninggal

Prognosis 6,9

Saat operasi, prognosis tergantung kondisi klinik pasien sebelumnya. Setelah pembedahan dekompresi, prognosisnya tergantung dari penyakit yang mendasarinya

ILUSTRASI KASUS

Ps Tn. Y, 64 th datang ke IGD RSUD AA pada tanggal 22 April 2008, dengan :

Keluhan Utama :

Perut Kembung sejak 1 mgg SMRS

Riwayat Penyakit Sekarang :

- Pasien mengeluhkan perut kembung sejak 7 hari SMRS, perut terasa sakit, hilang timbul seperti diremas, membengkak dan terasa tegang

- Bab (-) sejak 1 minggu smrs

- Flatus (-) sejak 1 minggu smrs

- Mual dan muntah (-)

- Bak tidak ada keluhan

- Pasien sudah mengeluhkan adanya benjolan pada perut bagian kanannya sejak 10 tahun yll, terasa sakit saat bekerja keras, gangguan Bab (-)

- Selama dirawat di RSUD, bab ada sedikit-sedikit seperti tahi kambing, pernah berdarah, warna kehitaman. Perut terasa semakin tegang, nyeri dan sulit bernafas sehingga pasien direncanakan untuk dilakukan laparatomi setelah 1 mg perawatan di RSUD.

- Penurunan BB (+)

Riwayat Penyakit Dahulu :

- Riwayat operasi sebelumnya (-)

- Hipertensi sejak 1 tahun

- DM (-)

- Riwayat asma (-)

- Riwayat penyakit jantung (-)

- Riwayat alergi obat-obatan (-)

Riwayat Penyakit Keluarga :

Anak kandung pasien dinyatakan menderita tumor ganas pada bagian usus

Pemeriksaan Fisik :

Keadaan Umum : Tampak lemah

Kesadaran : Komposmentis

Tanda-Tanda Vital

Tekanan darah : 150/90 mmHg

Nadi : 50 x/’

Nafas : 18 x/’

Suhu : 37,7 oC

BB : 40 kg

Kepala :

Konjunctiva : Tidak anemis

Sklera : Tidak ikterik

Mulut : Gigi palsu (-), gigi goyah (-), gigi tidak menonjol

Maxilla dan mandibula tidak menonjol dan tidak ada fraktur

Hidung : Deviasi septum (-), penyumbatan (-), perdarahan (-)

Leher : JVP 5-2 cmH2O

Kelenjar tiroid tidak membesar

Dada :

Jantung

Insp : Iktus cordis tidak tampak

Palp : Iktus teraba di RIC V 1 jari kemedial linea mid clavicula sinistra

Perk : Dalam batas normal

Ausk : Bunyi jantung normal, frek 60x/’, teratur, suara tambahan (-)

Paru

Insp : Gerak kedua dinding dada simetris

Tipe pernafasan abdomino-torakal, frek nafas 18x/’

Dalam pernafasan normal

Palp : Fremitus kanan = kiri

Perk : Sonor

Ausk : Suara nafas vesikuler N, suara tambahan (-)

Punggung : Dalam batas normal

Abdomen : Status Lokalis

Genitourinarius : Terpasang kateter no 18 , urine berwarna kuning jernih, darah (-)

Ekstremitas : Dalam batas normal

Status Lokalis

o Inspeksi : Tampak buncit

o Auskultasi : BU (+) meningkat

o Perkusi : Hipertimpani pada semua region abdomen

o Palpasi : Nyeri tekan pada semua regio, distensi abdomen, Hepar dan lien tidak teraba

Pemeriksaan Laboratorium :

Hb 12,1 gr % Ht 36 vol%

Leukosit 7800/mm3

Na 132 Ca 0,89

K 4,2

Diagnosis : Ileus Obstruksi ec suspect tumor colon ascendent dengan ASA III

Rencana Penatalaksanaan : Laparatomi explorasi dengan General anestesi

Dilakukan operasi tanggal 29/04/08

Diagnosis post operative : Tumor pada Colon Ascendens

Instruksi post operative : Pasien dirawat di ICU

Follow up pasien selama di ICU

Tgl 29/04/08

KU : Pasien tampak lemah

Kesadaran : Composmentis (GCS 15)

Vital sign : Td : 142/94 mmhg Hr : 59 x/i

Rr : 18 x/i T : 37,7 C

Saturasi Oksigen : 100%

Balance cairan : + 1050

Intake :

- Puasa 3 hari

- IVFD RL : D5% 3:1 30 gtt/i

Terapi :

- Inj. Ceftriaxon 1×2 gr

- Inj Ranitidin 3×1 amp

- Metronidazol 3 x 500 mg

- Inj Ketorolac 2×1 amp

Tgl 30/04/08

Kesadaran : CM

Vital sign : Td : 146/80 mmhg Hr : 71 x/i

Rr : 22 x/i T : 37 C

Saturasi Oksigen : 99%

Balance cairan : + 1100

Intake :

- Puasa hari ke 2

- IVFD RL : D5% 3:1 20 gtt/i

- Tiofusin 1 fls/hari

- Kaltamin 1 fls/hari

Terapi :

- lanjut

Tgl 01/05/08

Kesadaran : CM

Vital sign : Td : 170/90 mmhg Hr : 56 x/i

Rr : 24 x/i T : 37 C

Saturasi Oksigen : 99%

Balance cairan : + 650 cc

Intake :

- Puasa hari ke 3

- IVFD RL : D5% 3:1 20 gtt/i

- Tiofusin 1 fls/hari

- Kaltamin 1 fls/hari

- Tutofusin 5 fls/hari

Terapi :

- lanjut

Tgl 02/05/08

Kesadaran : CM

Vital sign : Td : 159/94 mmhg Hr : 56 x/i

Rr : 20 x/i T : 37,8 C

Saturasi Oksigen : 100%

Balance cairan : + 1000 cc

Intake :

- Makanan cair 3x 100 cc

- IVFD RL : D5% 3:1 20 gtt/i

- Tiofusin 1 fls/hari

Terapi :

- lanjut

- Alinamin F 3×1 amp

- OBH 3×1 cth

Lab :

Albumin 2 gr/dl (3,5-5)

TP 4,2 gr/dl (6,7-8,7)

Tgl 03/05/08

Kesadaran : CM

Vital sign : Td : 150/80 mmhg Hr : 55 x/i

Rr : 22 x/i T : 37C

Saturasi Oksigen : 99%

Balance cairan : – 550 cc

Intake :

- MC 3 x 50

- IVFD RL : D5% 3:1 20 gtt/i

- Tiofusin 1 fls/hari

- Plasbumin 1 fls/hr (3 hari)

Terapi :

- Lanjut

Tgl 05/05/08

Kesadaran : CM

Vital sign : Td : 143/73 mmhg Hr : 87 x/i

Rr : 22 x/i T : 37,7 C

Saturasi Oksigen : 99%

Balance cairan : -890 cc

Intake : sama dengan hari sebelumnya

Terapi : lanjut

Lab :

Hb 10,8 gr %

Leu 7800/mm3

T 287000/mm3

Tgl 06/05/08

Kesadaran : CM

Vital sign : Td : 143/73 mmhg Hr : 57 x/i

Rr : 22 x/i T : 37 C

Saturasi Oksigen : 99%

Balance cairan : -1640 cc

Intake : sama dengan hari sebelumnya

Terapi : lanjut

Pemeriksaan elektrolit :

Na 128

K 3,8

Ca 0,49

Tgl 07/05/08

Kesadaran : CM

Vital sign : Td : 143/73 mmhg Hr : 87 x/i

Rr : 22 x/i T : 36 C

Saturasi Oksigen : 99%

Balance cairan : -890 cc

Intake : sama dengan hari sebelumnya

Terapi : lanjut

PEMBAHASAN

Pasien Y, Pria 69 tahun dirawat dengan diagnosis post laparatomi e.c suspect ca colon ascenden dengan general anestesi. Pada kasus ini diperlukan pengelolaan post operative yang intensive dengan monitoring di ICU karena operasi laparatomi memiliki komplikasi antara lain terjadinya ventilasi paru yang tidak adekuat, gangguan kardiovaskuler dan gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit yang sangat sering terjadi pada pasien usia tua, hal tersebut terjadi karena penurunan respon haus terhadap kondisi hipovolemik dan osmolaritas, terjadi penurunan laju filtrasi glomerulus , kemampuan fungsi konsentrasi ginjal, renin, aldosteron penurunan respon ginjal terhadap vasopressin, terjadi gangguan kapasitas ginjal untuk menahan natrium

Pengelolaan pasien di ICU meliputi tindakan resusitasi yang meliputi dukungan hidup untuk fungsi-fungsi vital seperti : Airway (fungsi jalan napas), Breathing (fungsi pernapasan), Circulation (fungsi sirkulasi), Brain (fungsi otak) dan fungsi organ lain, dilanjutkan dengan diagnosis dan terapi definitif. Pada kasus ini air way patent , breathing spontan, fungsi ini dimonitor memakai alat. Pada pasien ini fungsi sirkulasi harus mendapatkan perhatian yang paling khusus sesuai dengan komplikasi laparatomi yang telah diterangkan diatas. Brain pada pasien ini tidak mengalami gangguan dilihat dari kesadaran pasien yang baik dan kemampuan pasien menjawab pertanyaan saat anamnesis

Pada hari pertama sampai hari ke 5 di ICU balance cairan pasien positif > 650 ml/hari , berdasarkan literatur perbedaan intake dan output tidak lebih dari 400 cc/hari hal ini dapat diakibatkan karena pengelolaan cairan pasien yang kurang tepat, dan fungsi organ yang belum sempurna setelah operasi.

Berdasarkan literatur Pemberian cairan 1-3 hari pasca.bedah adalah sbb :

· Pemberian cairan Dekstrose 5% dan Nacl (4:1) dimana total intake disesuaikan dengan Berat badan pasien (40 ml/Kg BB)

Pada kasus ini BB pasien 40 kg intake harusnya dibatasi 1600 ml / 24 jam

· Bila ada larutan tutofusin yang mengandung cukup elektrolit dan sorbitol sebagai sumber karbohidrat, dapat diberikan 40 ml/kgBB/hari untuk 1-3 hari pertama pasca bedah.

· Bila diperlukan lebih lama pemberian cairan untuk nutrisi, maka dapat ditambahkan asam amino berupa Aminofusin yang kebutuhannya disesuaikan dengan berat badan, rata-rata 1 gr/kgBB/hari.

Pada pasien ini tiofusin mulai diberikan pada hari ke 2 pasca bedah, sedangkan pemberian tutofusin diberikan pada hari ke 3 pasca bedah. Pada pasien ini dianjurkan puasa sampai hari ke 3 karena menurut teori pada kasus-kasus bedah digestif butuh waktu 3 hari untuk penyembuhan luka.

Pada hari ke 6 – 8 didapatkan balance cairan negatif > 800ml/hari. Hal ini disebabkan karena intakenya tetap seperti hari sebelumnya sedangkan produksi urine meningkat hal ini sesuai dengan literatur yang menyatakan urin setelah hari ke 3 akan lebih banyak diproduksi

Pada hari ke 7 didapatkan hasil pemeriksaan elektrolit dalam batas normal, untuk air way dan breathing baik dilihat dari nilai saturasi oksigen dan vital sign. Keadaan ini menunjukkan pasien sudah mulai stabil sehingga dapat keluar dari ICU

DAFTAR PUSTAKA

  1. Pelayanan Intensive Care. http://www.perdici.org/standard/standard-old/page4/page/4/. (Diakses 1 Mei 2008)
  2. Mansjoer A, Triyanti K,Savitri R, Wahyu IW dan setiowulan W. Kapita Selekta Kedokteran, Jilid 2 Edisi 3, Jakarta: Media aesculapius, 2001

  1. Intensive Care Unit. Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia ; 1989

  1. Rahayu Rejeki handayani, bahar asril. Buku ajar ilmu penyakit Dalam. Jakarta : Departemen Pendidikan Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Jilid III edisi IV ; 2007. 1405-1410
  2. Anonym. Mechanical Intestinal Obstruction. http://www.Merck.com.(Diakses 1 januari 2008)
  3. Hamami, AH., Pieter, J., Riwanto, I., Tjambolang, T., dan Ahmadsyah, I. Usus Halus, apendiks, kolon, dan anorektum. Dalam Buku Ajar Ilmu Bedah. Edisi 2. Editor: Sjamsuhidajat, R. dan De Jong, Wim. Jakarta: EGC, 2003. Hal: 615-681.
  4. Price, S.A. Patofisiologi: Konsep klinis proses-proses penyakit. Editor: Price, S.A., McCarty, L., Wilson. Editor terjemahan: Wijaya, Caroline. Jakarta: EGC, 1994.
  5. Browse, Norman, L. An Introduction to the Symptoms and Signs of Surgical Disease. 3rd Edition. London: Arnold, 1997.
  6. Fiedberg, B. and Antillon, M.: Small-Bowel Obstruction. Editor: Vargas, J., Windle, W.L., Li, B.U.K., Schwarz, S., and Altschuler, S. http://www.emedicine.com. Last Updated, January 11, 2008.
  7. Levine, B.A., and Aust, J.B. Kelainan Bedah Usus Halus. Dalam Buku Ajar Bedah Sabiston’s essentials surgery. Editor: Sabiston, D.C. Alih bahasa: Andrianto, P., dan I.S., Timan. Editor bahasa: Oswari, J. Jakarta: EGC, 1992.

Juli 16, 2008 Posted by | kuliahbidan, Penelitian | | Tinggalkan komentar

WANITA DALAM BERBAGAI MASA KEHIDUPAN

Setelah lahir , kehidupan wanita dibagi dalam beberapa masa yaitu :
-Masa Bayi
-Masa kanak – kanak
-Masa Pubertas
-Masa Reproduksi
-Masa Klimakterium
-Masa Senium

Masing-masing masa mempunyai kekhususan krn ggn pd setiap masa tsb mempunyai kekhasan.

#####

Masa Bayi

- Pd waktu bayi lahir cukup bulan , pembentukan genetelia interna sudah selesai
- Jlh follikel primordial dlm kedua ovarium tlh lengkap yaitu 750000 butir dan tidak bertambah lagi.
- Pd mgg I & II kehidupan didunia luar masih mengalami pengaruh Estrogen, wkt hamil tubuh janin –> plasenta , krn itu uterus baru lahir agak lebih besar daripada anak kecil
- Estrogen menimbulkan pembengkakan payudara pada bayi wanita maupun laki-laki selama 10 hari
- kdg-kdg disertai sekresi cairan seperti air susu
- 10 – 15 % bayi wanita dpt timbul perdarahan pervaginam dlm mgg pertama
- pd wkt lahir perbandingan servik dan korpus uteri 1 ; 1 krn hipertrofi korpus akibat pengaruh hormon estrogen
- setelah pengaruh estrogen hilang perbandingan menjadi 2 ; 1
- pd pubertas dgn pengaruh estrogen yg dihasilkan sendiri 1 ; 2

#####

Masa Kanak – Kanak

- Yg khas ialah perangsangan oleh hormon kelamin sangat kecil krn kadar estrogen & hormon gonadotropin menurun
- Alat-alat genetalia dlm masa ini tdk memperlihatkan pertumbuhan yg berarti sampai pubertas
- Pengaruh Hipofisis tu terlihat dalam pertumbuhan badan

Gangguan masa kanak-kanak

- Aglutinasi labia minora mungkin sdh terjadi pd masa bayi tetapi seringkali baru ditemukan pd masa kanak-kanak:
-labium minus kanan melekat pd labium minus kiri
-sulit kencing
- Terapi dgn sonde , 2 bibir yg melekat dpt dipisahkan ? bekas perlengketan diberi salep yg mengandung estrogen

#####

Masa Pubertas

- Merupakan masa peralihan antara masa kanak-kanak dan masa dewasa
- Dapat dikatakan awal berfungsinya Ovarium
- Pubertas berakhir pd saat ovarium sdh berfungsi dgn mantap dan teratur
- secara klinis :
- timbulnya ciri-ciri kelamin sekunder
- wanita umur 8 – 14 thn dan berlangsung  ±  selama 4 tahun
- Awal pubertas dipengaruhi oleh bangsa, iklim, gizi, dan kebudayaan
- kejadian yg penting : pertumbuhan badan yg cepat, timbulnya ciri-ciri kelamin sekunder, menarche, dan perubahan psikis
- penyebab primer mulainya pubertas belum diketahui
- yg dik ialah ovarium mulai berfungsi dibwh pengaruh hormon Gonadotropin dr Hifofisis yg dikeluarkan atas pengaruh releasing faktor dr Hiphothalamus
- dlm ovarium folikel mulai tumbuh dan walaupun folikel-folikel tdk sampai menjadi matang krn sebelumnya mengalami atresia namun folikel-folikel tsb sdh sanggup mengeluarkan estrogen

Gangguan Dalam Masa Pubertas

Pubertas Dini ( Pubertas Prekoks )
- Hormon Gonadotropin diproduksi sblm anak berumur 8 thn, hormon ini merangsang ovarium, sehingga ciri-ciri kelamin sekunder timbul, menarche dan kemampuan reproduksi terdapat sebelum waktunya
- Pubertas dini kalau ciri-ciri sekunder timbul sebelum umur 8 thn atau kalau sdh ada haid sblm umur 10 thn
- dlm kepustakaan dikabarkan ada anak berumur 5thn 8 bln –> melahirkan bayi
- pengobatan dpt dicoba dgn pemberiaan MPA ( Medroksi Progesteron Acetat ) 100 mg IM tiap 14 hr –> utk mencegah haid

Pubertas Tarda
- Pubertas terlambat jika gejala-gejala pubertas baru datang antara umur 14 – 16 tahun
- Disebabkan oleh faktor :Herediter, Ggn kesehatan, Kekurangan gizi

Perdarahan Dalam Masa Pubertas
- Perdarahan banyak pd wanita usia 12 – 20 thn disebut Perdarahan Juvenil ( Juvenile Bleeding )
- terapi konservatif medikamentosa, mis : Progesteron spti Norethisteron (Primolut N) 3 X 5 mg per hari atau Norethinodrel ( 2 X 10 mg / hr )
- obat terus diberikan utk 3 mgg, biarpun perdarahan sudah berhenti
- jika pengobatan medikamentosa tdk menolong dan perdarahan banyak terpaksa dilakukan kuretase

#####

Masa Reproduksi

- Masa yg penting bagi wanita dan berlangsung ± 33 thn
- terjadi ovulasi ± 450 kali, berdarah selama 1800 hr

#####

Klimakterium dan Menapause

Pengertian klimakterium, menapause, dan senium berbeda-beda

Definisi :
1. Klimakterium (bahasa Yunani = tangga) merupakan masa peralihan antara masa reproduksi & masa senium
2. Menapause adalah haid terakhir atau saat terjadinya     haid terakhir
Bgn klimakterium sblm menapause disebut pramenapause dan sesudah disebut pascamenapause
3. Senium adalah masa sesudah pascamenapause ketika tercapai keseimbangan baru dalam kehidupan wanita, sehingga tdk ada lagi ggn vegetatif maupun psikis

Klimakterium

- bukan suatu keadaan patologik melainkan suatu masa peralihan yg normal, berlangsung bbrp tahun sebelum dan ssdh menapause
- sulit menentukan awal dan akhir klimakterium, mulai ± 6 thn sblm menapause berdasarkan keadaan endokrinologi ( kadar estrogen menurun dan hormon gonadotropin meningkat ) dan ada gejala klinis
-Klimakterium berakhir ± 6 – 7 thn sesudah menapause, pada saat ini kadar estrogen menurun= senium
- dgn demikian lamanya klimakterium ± 13 thn
- dasarnya klimakterium disebabkan kurang bereaksinya ovarium thdp rangsangan hormon krn ovarium menjadi tua
- proses menjadi tua sesudah umur 40 thn , siklus haid 25 % tdk disertai ovulasi jadi bersifat Anovulatoar
- penurunan produksi estrogen dan kenaikan hormon gonadotropin
- pd wanita ini terjadi perubahan-perubahan tertentu dpt menimbulkan ggn ringan atau berat
- terjadi atropi alat-alat genital dimana ovarium menjadi kecil dari berat 10 – 12 gr pd wanita dlm masa reproduktif, menjadi 4 gr
- uterus juga lambat laun mengecil dan endometrium mengalami atrofi , biarpun demikian uterus masih tetap dpt bereaksi terhadap estrogen, pemberian estrogen dr luar yg diikuti dgn penghentiannya dpt menimbulkan withdrawal bleeding
- epitel vagina juga menipis –> atropi selaput lendir vagina
- mammae mulai menjadi lembek, proses ini berlangsung terus menerus dalam senium

Gangguan pada Klimakterium
-Klimakterium dan menapause merupakan hal-hal yg khas bagi manusia
-perdarahan dalam klimakterium
-kelainan haid sering terjadi pd menapause
-dpt bersifat oligomenoroe atau polimenoroe (ggn siklus)
-dpt banyaknya darah wkt haid berupa hipomenoroe atau hipermenoroe, yg paling mengganggu ialah metroraghia
-metroragia disebabkan oleh tidak lagi teraturnya ovulasi dlm menapause , maka siklus sering anovulatoar yg dpt menimbulkan PUD
-endometrium yg dipengaruhi oleh estrogen tanpa pengaruh progesteron –> gambaran hiperplasia glandularis sistika ( paling sering terjadi )
-perlu dilakukan kuretase diagnostik
-metroragia dlm pramenapause disebabkan 77 % oleh PUD , 17,7 % polip dan mioma, dan 5,2 % oleh endometrium apabila perdarahan terjadi sesudah menapause, 50 % disebabkan oleh carcinoma
-Terapi –> perdarahan berlebihan yaitu : kuretase

Gangguan Neurovegetatif dan Ggn Psikis
- Irritabilitas, kecemasan, depresi, insomnia, vertigo, palpitasi jantung, rasa panas tu pada bagian badan atas, berkeringat banyak

Penanggulangan
- Dapat dicoba dgn penerangan,obat penenang
- Tapi jika keluhan berat disamping usaha diatas diberikan hormonal (Estrogen)
Beberapa kelainan kontra indikasi pemberian Estrogen:
1. Riwayat penyakit Trombo Emboli
2. Riwayat penyakit Hepar
3. D M
4. Hipertensi
5. Fibromioma uteri
6. CA jenis apapun

Penyakit – penyakit lain
- Artropatia, peny. Jantung koroner, mastitis

Menapause
- Haid terakhir atau saat terjadinya haid terakhir
- dignosis dibuat setelah amenorhoe ± 1 tahun
- dipengaruhi oleh : keturunan, kesehatan umum, dan pola hidup
- ada hub dgn menarche, makin dini menarche terjadi maka makin lambat menapause timbul dan sebaliknya
- menapause artifisial krn operasi atau radiasi umumnya menimbulkan keluhan yg lebih banyak dibandingkan dgn menapause alamiah

#####

Senium

- Pd senium telah tercapai keadaan keseimbangan hormonal yg baru sehingga tdk ada lagi ggn vegetatif maupun psikis
- yg mencolok dlm masa ini ialah kemunduran alat-alat tubuh dan kemampuan fisik yg mengalami proses ketuaan

Gangguan Senium
- Atropi alat – alat genetalia & jaringan sekitarnya
- meningkatnya proses katabolisme protein –> jaringan yg banyak dipengaruhi ialah tulang, otot, dan kulit
seperti : osteoporosis, atrofi mukosa vagina, uretritis dan sistitis

Juli 12, 2008 Posted by | kewanitaan, Kuliah, kuliahbidan, Psikologi | | Komentar Dimatikan

Introduksi Kesehatan Reproduksi Wanita

Kuliah Obstetri Ginekologi
Prof. dr. Abdul Bari Saifuddin / dr. Biran Affandi / dr. J.M. Seno Adjie
Tulisan tentang Penyakit Hubungan Seksual / Kuliah Kulit dan Kelamin
dr. Sjaiful Fahmi Daili

KESEHATAN REPRODUKSI (Reproductive Health)

International Conference on Population and Development, Cairo, 1994 (WHO/PBB) :
“Reproductive health is a state of complete physical, mental, and social well-being, and not merely the absence of disease or infirmity, in all matters relating to the reproductive system, its functions and its processes.”
“Reproductive health therefore implies that people are able to have a responsible, satisfying and safe sex life and that they have the capability to reproduce and the freedom to decide if, when and how often to do so.”
“Implicit in this last condition are the rights of men and women to be informed and to have access to safe, effective, affordable and acceptable methods of family planning of their choice, as well as other methods of their choice for regulation of fertility which are not against the law, and the right of access to appropriate health care services that will enable women to go safely through pregnancy and childbirth, and provide couples with the best chance possible of having a healthy infant.”
“In line with the above definition of reproductive health, reproductive health care is defined as the constellation of methods, techniques, and services that contribute to reproductive health and well-being by preventing and solving reproductive health problems. It also includes sexual health, the purpose of which is the enhancement of the quality of life and personal relations, and not merely counselling and care related to reproduction and sexually transmitted diseases.”

What are the essential elements of reproductive health, and how do these elements bear on every problems of fertility and infertility ?
1. Reproductive health is the opportunity, particularly for women, to regulate and control fertility. This includes not only family planning, but for some couples, the proper treatment of infertility.
2. Reproductive health should allow all women to have a safe pregnancy and childbirth.
3. Reproductive health is the striving for neonatal excellence, allowing every newborn to have the benefits of a healthy infancy.
4. Finally, reproductive health is the freedom from sexually-transmitted diseases.

KELUARGA BERENCANA (Family Planning)

International Conference on Population and Development, Cairo, 1994 (WHO/PBB)
“The aim of family planning programmes must be to enable couples and individuals to decide freely and responsibly the number and spacing of their children, and to have the information and means to do so and to ensure informed choices and make available a full range of safe and effective methods.”
“The success of population education and family planning programmes in a variety of settings demonstrates that informed individuals everywhere can and will act responsibly in the light of their own needs and those of their families and communities.”
“The principle of informed free choice is essential to the long-term success of family planing programmes.”
“Govermental goals for family planning should be defined in termes of unmet needs for information and services.”
“Demographic goals, while legitimately the subject of government development strategies, should NOT be imposed on family planning providers in the form of targets or quotas for the recruitment of clients.”

PROGRAM “SAFE MOTHERHOOD” (WHO, 1988)

meliputi empat program / target utama :
1. Family Planning : Keluarga Berencana
2. Antenatal Care : Asuhan / Perawatan Antenatal
3. Clean and Safe Delivery : Persalinan yang Bersih dan Aman
4. Essential Obstetric Care : Pelayanan Obstetrik Esensial

DAUR KEHIDUPAN WANITA

Prakonsepsi
Fertilisasi dan Implantasi
Embrio 1 – 10 minggu intrauterin
Fetus 11- 40 minggu intrauterin
KELAHIRAN
Neonatus 0 – 1 bulan
Bayi 1 – 12 bulan
Batita 1 – 3 tahun
Balita 1 – 5 tahun
Anak 5 – 12-15 tahun (menarche)
PUBERTAS (Menarche) 12-15 tahun
Remaja (Adolesen) s/d 20 tahun
Maturitas
MASA REPRODUKSI 20-50 tahun
Klimakterium (Menopause) 45-55 tahun
Pasca Menopause 50-65 tahun
Senium 65 tahun ke atas

Masa embrio sampai fetus disebut masa prenatal / prakelahiran.
Masa neonatus sampai anak disebut juga masa prapubertas.

PARAMETER KESEHATAN REPRODUKSI WANITA (Tantangan)

- Angka Kematian Maternal.
- Anemia
- Cakupan pelayanan ibu hamil.
- Gizi kurang
- Pertolongan oleh tenaga terlatih.
- Kehamilan usia muda
- Cakupan imunisasi tetanus toksoid.
- Penyakit menular akibat hubungan seksual.
- Tingkat pendidikan dan pengetahuan masih rendah.

Masalah

1. Wanita dan anak risiko tinggi bila kehamilan melampaui kurun waktu reproduksi sehat dan atau paritas tinggi.
2. Kehamilan cukup aman bila usia ibu antara 20 sampai 35 tahun.
3. Jumlah riwayat persalinan (paritas) aman sampai dengan 3.
4. Jarak antar kehamilan cukup aman minimal 2 tahun.
5. Usia / jarak di luar batas aman : risiko kematian maternal.
6. Jumlah anak lebih dari 3 : risiko komplikasi persalinan.
7. Kematian maternal : kematian ibu yang terjadi berhubungan dengan peristiwa kehamilan, persalinan maupun nifas.
8. Penyebab utama kematian maternal : 1) perdarahan 2) infeksi/sepsis 3) preeklampsia/ eklampsia (TRIAS penyebab), 4) partus lama 5) abortus yang tidak aman 6) lain-lain.
9. The Four Too’s (4 “terlalu”) : – Too many (anak banyak) – Too early (hamil usia muda) – Too frequent (jarak antar kehamilan terlalu dekat) -Too late (hamil usia tua).
10. The Three Delays (3 “terlambat”) : – Delay in deciding to seek medical care – Delay in reaching a medical facility with adequate care – Delay in receiving qualified medical care at the facility.
11. Total Fertility Rate (TFR) : target 2.2
12. Anemia di Indonesia sebagian besar karena defisiensi Fe dan gizi kurang.

The State of World Population 1997 documents the effects of denying sexual and reproductive rights in many countries :
1. 585,000 women–one every minute–die each year from pregnancy-related causes, nearly all in developing countries. Many times this number are disabled as the result of childbirth. Much of this death and suffering could be averted with relatively low-cost improvements in health care systems.
2. About 200,000 maternal deaths per year result from the lack or failure of contraceptive services.
3. 120-150 million women who want to limit or space their pregnancies are still without the means to do so effectively. Altogether 350 million couples lack information about and access to a range of contraceptive services.
4. At least 75 million pregnancies each year (out of about 175 million) are unwanted; they result in 45 million abortions, 20 million of which are unsafe.
5. 70,000 women die each year as a result of unsafe abortion, and an unknown number suffer infection and other health consequences. Many unsafe abortions could be avoided if safe and effective means of contraception were freely available.
6. 3.1 million people were infected last year by the human immunodeficiency virus (HIV) which leads to AIDS; 1.5 million died from HIV/AIDS-related causes in 1996; 22.6 million people are living with HIV/AIDS.
7. 1 million people die each year from reproductive tract infections including sexually transmitted diseases (STDs) other than HIV/AIDS. More than half of the 333 million new cases of STDs per year are among teenagers.
8. 120 million women have undergone some form of female genital mutilation; another 2 million are at risk each year.
9. Rape and other forms of sexual violence are rampant, though many rapes are unreported because of the stigma and trauma associated with rape and the lack of sympathetic treatment from legal systems.
10. At least 60 million girls who would otherwise be expected to be alive are “missing” from various populations as a result of sex-selective abortions or neglect.
11. 2 million girls between ages 5 and 15 are introduced into the commercial sex market each year.
The UNFPA report stresses that sexual and reproductive rights are key to women’s empowerment and gender equality, and are also critical to the economic and social life of communities, nations and the world. Global and national needs coincide with personal rights and interests. Given the choice, most women would have fewer children than their parents’ generation. Ensuring that women and their partners have the right to choose will support a global trend towards smaller families, and help countries find a balance between their populations and resources. Successful development efforts will in turn bring sexual and reproductive health to more people.

PENYAKIT MENULAR SEKSUAL (PMS) / PENYAKIT HUBUNGAN SEKSUAL (PHS) / SEXUALLY TRANSMITTED DISEASES (STD)

Any of a diverse group of infections caused by biologically dissimilar pathogens and transmitted by sexual contact, which includes both heterosexual and homosexual behaviour; sexual transmission is the only important mode of spread of some of the diseases in the group (e.g., the classic venereal diseases), while others (e.g., hepatitis / HIV viruses, other bacterial / fungal species, etc) can also be acquired / transmitted by other nonsexual means.
(Dorland’s Illustrated Medical Dictionary, 28th ed., 1996)

Dalam batasan yang lebih sempit, atau menurut awam, sering digunakan istilah “penyakit kelamin” (venereal diseases).
Yang dimaksud dengan penyakit kelamin, jika istilah ini yang digunakan, adalah penyakit yang penularannya (terutama) melalui (hubungan) kelamin / genital.

Terdapat juga pengertian yang mungkin keliru di kalangan awam, bahwa penyakit menular seksual atau penyakit kelamin adalah penyakit yang menyerang organ kelamin / genital. Padahal, melalui modus kontak kelamin yang bervariasi (manual / oral / anal) dapat juga terjadi gejala penyakit pada kulit, mulut, anus, dan organ / sistem organ ekstragenital lainnya.

Selama dekade terakhir ini insidens PHS cepat meningkat di berbagai negara. Meskipun demikian, data yang dilaporkan tentu tidak menggambarkan keadaan sesungguhnya (“fenomena gunung es”).

Hal ini antara lain disebabkan :
1. Banyak kasus yang tidak dilaporkan.
2. Kalaupun ada laporan, sistem pelaporan yang berlaku belum ada keseragaman.
3. Fasilitas diagnostik di berbagai daerah kurang mendukung, seringkali juga terjadi salah diagnosis dan penatalaksanaan.
4. Banyak kasus yang asimptomatik (tidak memberikan gejala yang khas).
5. Bila penderita wanita, sering tanpa gejala khas (asimptomatik) sehingga mereka merasa tidak perlu berobat.
6. Program pengontrolan terhadap PHS dari pemerintah / instansi belum berjalan baik.

Secara keseluruhan, dapat dilihat bahwa ada banyak faktor yang dapat mempengaruhi peningkatan terjadinya insidens PHS, antara lain :
1. Perubahan demografik yang luar biasa : peledakan jumlah penduduk, pergerakan / mobilitas masyarakat yang bertambah (sering bepergian ke luar kota untuk pekerjaan, liburan, wisata, kongres/seminar/rapat dll).
2. Kemajuan sosial ekonomi industri, menyebabkan lebih banyak kebebasan sosial dan lebih banyak waktu yang terluang.
3. Kelalaian sistem negara dalam memberikan pendidikan kesehatan umumnya dan pendidikan seksualitas khususnya.
4. Perasaan “aman” pada penderita karena pemakaian obat antibiotik dan kovntrasepsi yang dapat dipilih sendiri, yang belum tentu benar.
5. Akibat banyak pemakaian antibiotik yang tidak sesuai, akibatnya terjadi resistensi kuman terhadap antibiotik tersebut.
6. Fasilitas kesehatan kurang memadai terutama fasilitas laboratorium dan klinik pengobatan.
7. Banyaknya kasus asimptomatik, merasa diri tidak sakit, tetapi mempunyai potensi untuk menulari orang lain.

Usaha penyuluhan dan penanggulangan harus melibatkan ketiga disiplin yang saling berhubungan :
1. segi medik
2. segi epidemiologik
3. segi psikososial

KESEHATAN REPRODUKSI WANITA USIA REMAJA

Latar belakang

1. masa remaja adalah masa yang penuh dinamika, gejolak rasa ingin tahu yang tinggi dalam berbagai hal, termasuk juga dalam hal reproduksi / seksualitas.
2. sumber informasi yang banyak dan luas tapi belum tentu benar, baik dan sehat.

Masalah

Masalah yang mungkin timbul sebagai akibatnya, misalnya perilaku seksual yang tidak baik, menjadi penyebab tingginya angka kejadian kehamilan remaja / di luar nikah, aborsi, penyakit menular seksual, dsb.
Di negara berkembang, banyak perkawinan yang terjadi pada usia muda. Sehingga yang menjadi masalah mendasar sebenarnya bukan “hubungan seks / kehamilan di luar nikah”, tetapi “pernikahan / kehamilan pada usia muda” (karena pada usia belasan tahun sudah menikah, berhubungan seks, hamil dan mempunyai anak).

Makin maju / makin meningkatnya kualitas hidup masyarakat di suatu negara, tampaknya trend pola kehidupan reproduksi wanita juga ikut berubah (grafik).
1. Dengan peningkatan kualitas hidup, gizi, pengetahuan, dsb, dapat terjadi menstruasi pada anak wanita pada usia yang lebih awal (semakin muda).
2. Dengan bertambahnya wawasan, pengetahuan, dsb, dapat terjadi seorang wanita memilih untuk menikah pada usia yang lebih tua.
Hal ini menjadi masalah khusus lain kesehatan reproduksi wanita usia remaja, karena terdapat celah / “gap” yang luas antara usia menarche dengan usia perkawinan, padahal masa remaja itu adalah masa yang rentan terhadap perilaku seksual yang kurang baik (misalnya berganti-ganti pasangan, dsb), kemungkinan kehamilan yang besar (karena sudah memasuki usia reproduktif), kemungkinan terpapar penyakit menular seksual, dan sebagainya.

Essential aspects of adolescent (reproductive) health care :
1. counseling.
2. contraceptive alternatives / choices.
3. obstetric care : maintenance and termination of pregnancy
4. prevention and treatment of sexually transmitted diseases.

Juli 12, 2008 Posted by | Ilmu kebidanan, kesehatan, kewanitaan, Kuliah, kuliahbidan | | Tinggalkan komentar

Etika Profesi dalam Kesehatan Reproduksi

Sanksi Pelanggaran Etik dan Etikolegal Profesi Kedokteran :
Etik Kedokteran dan Hukum Kesehatan dalam Obstetri Ginekologi

Prof.dr. M. Jusuf Hanafiah
Gurubesar Obstetri Ginekologi
Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara, Medan

Abortus / Terminasi Kehamilan atas Indikasi Non-Medik
Prof.dr. Ratna Suprapti Samil
Gurubesar Obstetri Ginekologi
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta

Ethical Guidelines Regarding Induced Abortion
for Non-Medical Reasons

FIGO Committee Report for the Ethical Aspects of Human Reproduction and Women’s Health
Cairo, 1998

Pertama: Sanksi Pelanggaran Etik dan Etikolegal Profesi Kedokteran :
Etik Kedokteran dan Hukum Kesehatan dalam Obstetri Ginekologi

Pendahuluan

Dalam Lafal Sumpah Dokter Indonesia (LSDI) dan Kode Etik Kedokteran Indonesia (KODEKI) telah tercantum secara garis besar perilaku dan tindakan-tindakan yang layak atau tidak layak dilakukan seorang dokter dalam menjalankan profesinya. Namun ada saja dokter yang tega melakukan pelanggaran etik bahkan pelanggaran etik sekaligus hukum (etikolegal), terlebih dalam lingkungan masyarakat yang sedang mengalami krisis akhir-akhir ini. Kenyataan menunjukkan pula bahwa sanksi yang diberikan oleh atasan atau oleh organisasi profesi kedokteran selama ini terhadap pelanggaran etik itu tidak tegas dan konsisten. Hal ini disebabkan antara lain belum dimanfaatkannya organisasi profesi kedokteran oleh masyarakat untuk menyampaikan keluhan-keluhannya dan tidak jelasnya batas-batas antara yang layak dan tidak layak dilakukan seorang dokter terhadap pasien, teman sejawat dan masyarakat umumnya. Inilah bedanya etik dengan hukum. Hukum lebih tegas dan lebih objektif menunjukkan hal-hal yang merupakan pelanggaran hukum, sehingga jika terjadi pelanggaran dapat diproses sesuai dengan hukum yang berlaku.
Dalam makalah ini dibahas tentang perbedaan etik dengan hukum, contoh-contoh pelanggaran etik murni dan pelanggaran etikolegal, termasuk contoh-contoh dalam bidang Obstetri Ginekologi, prosedur penanganan dan sanksi-sanksi yang dapat diberikan terhadap pelaku pelanggaran etik dan etikolegal profesi kedokteran.

Beda etik dengan hukum

Etika kedokteran merupakan seperangkat perilaku anggota profesi kedokteran dalam hubungannya dengan klien / pasien, teman sejawat dan masyarakat umumnya serta merupakan bagian dari keseluruhan proses pengambilan keputusan dan tindakan medik ditinjau dari segi norma-norma / nilai-nilai moral.
Hukum merupakan peraturan perundang-undangan baik pidana, perdata maupun administrasi. Hukum kesehatan merupakan peraturan perundang-undangan yang berhubungan langsung dengan pemeliharaan kesehatan, jadi menyangkut penyelenggara pelayanan kesehatan dan penerima pelayanan kesehatan.
Perbedaan etik dengan hukum adalah :
1. Etik berlaku untuk lingkungan profesi. Hukum berlaku untuk umum.
2. Etik disusun berdasarkan kesepakatan anggota profesi. Hukum dibuat oleh suatu kekuasaan atau adat.
3. Etik tidak seluruhnya tertulis. Hukum tercantum secara terinci dalam kitab undang-undang / lembaran negara.
4. Sanksi terhadap pelanggaran etik umumnya berupa tuntunan. Sanksi terhadap pelanggaran hukum berupa tuntutan.
5. Pelanggaran etik diselesaikan oleh Majelis Kehormatan Etik Kedokteran (MKEK) yang dibentuk oleh Ikatan Dokter Indonesia (IDI) dan kalau perlu diteruskan kepada Panitia Pertimbangan dan Pembinaan Etika Kedokteran (P3EK), yang dibentuk oleh Departemen Kesehatan (DepKes). Pelanggaran hukum diselesaikan melalui pengadilan.
6. Penyelesaian pelanggaran etik tidak selalu disertai bukti fisik. Penyelesaian pelanggaran hukum memerlukan bukti fisik.

Pelanggaran etik murni
Pelanggaran terhadap butir-butir LSDI dan/atau KODEKI ada yang merupakan pelanggaran etik murni, dan ada pula yang merupakan pelanggaran etikolegal. Pelanggaran etik tidak selalu merupakan pelanggaran hukum, dan sebaliknya, pelanggaran hukum tidak selalu berarti pelanggaran etik.
Yang termasuk pelanggaran etik murni antara lain :
1. Menarik imbalan jasa yang tidak wajar dari klien / pasien atau menarik imbalan jasa dari sejawat dokter dan dokter gigi beserta keluarga kandungnya.
2. Mengambil alih pasien tanpa persetujuan sejawatnya.
3. Memuji diri sendiri di depan pasien, keluarga atau masyarakat.
4. Pelayanan kedokteran yang diskriminatif.
5. Kolusi dengan perusahaan farmasi atau apotik.
6. Tidak pernah mengikuti pendidikan kedokteran berkesinambungan.
7. Dokter mengabaikan kesehatannya sendiri.
Perilaku dokter tersebut di atas tidak dapat dituntut secara hukum tetapi perlu mendapat nasihat / teguran dari organisasi profesi atau atasannya.

Contoh-contoh kasus etikolegal
Pelanggaran di mana tidak hanya bertentangan dengan butir-butir LSDI dan/atau KODEKI, tetapi juga berhadapan dengan undang-undang hukum pidana atau perdata (KUHP/KUHAP). Misalnya :
1. Pelayanan kedokteran di bawah standar (malpraktek)
2. Menerbitkan surat keterangan palsu.
3. Membocorkan rahasia pekerjaan / jabatan dokter.
4. Pelecehan seksual.
(dan sebagainya)

Etik kedokteran dan hukum kesehatan dalam obstetri ginekologi

Masalah-masalah yang berhubungan dengan reproduksi manusia merupakan masalah yang sangat khusus dan paling rumit ditinjau dari segi etik, agama, hukum dan sosial, terlebih dengan begitu pesatnya perkembangan dalam bidang obstetri ginekologi dalam tiga dekade terakhir ini.
Masalah-masalah kontrasepsi, aborsi, teknologi reproduksi buatan, operasi plastik selaput dara dan sebagainya, memerlukan perhatian penuh pihak profesi kedokteran, hukum, agama dan masyarakat luas.

1. Pelayanan kontrasepsi
Sejak program Keluarga Berencana (KB) menjadi program nasional pada tahun 1970, berbagai cara kontrasepsi telah ditawarkan dalam pelayanan KB di Indonesia, mulai dari cara tradisional, barier, hormonal (pil, suntikan, susuk KB), IUD/AKDR, dan kontrasepsi mantap (Kontap). Seorang dokter harus memberikan konseling kepada pasangan suami istri (pasutri) atau calon akseptor, dengan penjelasan lebih dahulu tentang indikasi kontra, efektifitas dan efek samping atau keamanan setiap jenis kontrasepsi, dan akhirnya pasutri lah yang menentukan pilihannya.
Dari cara-cara kontrasepsi tersebut di atas, maka cara AKDR dan kontap menjadi bahan diskusi yang hangat, terutama karena menyangkut aspek agama dan hukum. Mekanisme kerja AKDR adalah sebagai kontrasepsi dan juga kontranidasi, sehingga menimbulkan dilema bagi seorang dokter. Seorang dokter harus senantiasa mengingat akan kewajibannya melindungi hidup insani (KODEKI, pasal 10), bahkan menghormati setiap hidup insani mulai dari saat pembuahan (LSDI, butir 9). Jadi pemasangan AKDR dapat dianggap mengupayakan pemusnahan telur yang telah dibuahi. Karena LSDI telah dikukuhkan dengan PP no.26 tahun 1960, maka seorang dokter yang melanggar sumpah tersebut berarti telah melanggar peraturan pemerintah, sehingga dapat diancam hukuman sesuai peraturan yang berlaku. Namun, KB merupakan program nasional, sehingga sanksi terhadap pelanggaran tersebut agaknya tidak diberlakukan.
Cara kontap baik pada pria maupun pada wanita telah banyak dilakukan di Indonesia, baik atas indikasi medik maupun indikasi sosial-ekonomi dengan tujuan kontrasepsi yang permanen. Peraturan perundang-undangan tentang kontap belum ada di Indonesia. Pendapat tokoh-tokoh agama beraneka ragam dan kenyataannya lebih banyak yang menentang cara kontrasepsi itu karena mengurangi harkat dan kodrat seseorang. Dari segi etik kedokteran, cara kontap dapat dibenarkan sesuai dengan KODEKI butir 10, yaitu dengan tujuan melindungi hidup insani dan mengutamakan kesehatan penderita. Namun tidaklah etis menawarkan kontap pada saat ibu sedang mengalami persalinan patologik. Dari segi hukum, kontap dapat dianggap melanggar KUHP pasal 534 yang melarang usaha pencegahan kehamilan dan melanggar pula pasal 351 karena tindakan tersebut merupakan mutilasi alat tubuh. Juga dapat dituduh melakukan penganiayaan, sehingga dapat dikenakan hukuman atau dituntut ganti rugi. Namun, dengan terbitnya UU RI no.10 tahun 1992 tentang Perkembangan Kependudukan dan Pembangunan Keluarga Sejahtera, penyelenggaraan Keluarga Berencana dapat dibenarkan dengan memperhatikan butir-butir berikut :
Pasal 17
(1) Pengaturan kelahiran diselenggarakan dengan tata cara yang berdaya guna dan berhasil guna serta dapat diterima oleh pasangan suami istri sesuai dengan pilihannya.
(2) Penyelenggaraan pengaturan kelahiran dilakukan dengan cara yang dapat dipertanggungjawabkan dari segi kesehatan, etik dan agama yang dianut penduduk yang bersangkutan.
Penjelasan
(1) Pelaksanaan pengaturan kelahiran harus selalu memperhatikan harkat dan martabat manusia serta mengindahkan nilai-nilai agama dan sosial budaya yang berlaku di dalam masyarakat.
(2) Untuk menghindarkan hal yang berakibat negatif, setiap alat, obat dan cara yang dipakai sebagai pengatur kehamilan harus aman dari segi medik dan dibenarkan oleh agama, moral dan etika.
Pasal 18
Setiap pasangan suami istri dapat menentukan pilihannya dalam merencanakan dan mengatur jumlah anak, dan jarak antara kelahiran anak yang berlandaskan pada kesadaran dan tanggung jawab terhadap generasi sekarang maupun generasi mendatang.
Pasal 19
Suami dan istri mempunyai hak dan kewajiban yang sama serta kedudukan yang sederajat dalam menentukan cara pengaturan kelahiran.
Penjelasan
Suami dan isteri harus sepakat mengenai pengaturan kehamilan dan cara yang akan dipakai agar tujuannya tercapai dengan baik. Keputusan atau tindakan sepihak dapat menimbulkan kegagalan atau masalah di kemudian hari. Kewajiban yang sama antara keduanya berarti juga, bahwa apabila isteri tidak dapat memakai alat, obat dan cara pengaturan kelahiran, misalnya karena alasan kesehatan, maka suami mempergunakan alat, obat dan cara yang diperuntukkan bagi laki-laki.

2. Abortus Provokatus
Masalah aborsi telah dibahas di berbagai pertemuan ilmiah dalam lebih dari 3 dekade terakhir ini, baik di tingkat nasional maupun regional, namun hingga waktu ini Rancangan Pengaturan Pengguguran berdasarkan Pertimbangan Kesehatan belum terwujud. Secara umum hal ini telah dicantumkan dalam undang-undang kesehatan, namun penjabarannya belum selesai juga. Kehampaan hukum itu menyangkut pula tindakan abortus provokatus pada kasus-kasus kehamilan karena perkosaan, kehamilan pada usia remaja putri (usia kurang dari 16 tahun, yang belum mempunyai hak untuk menikah), kehamilan pada wanita dengan gangguan jiwa, kegagalan kontrasepsi dan wanita dengan grande multipara.
Seorang dokter harus senantiasa mengingat akan kewajibannya melindungi hidup insani (KODEKI pasal 10). Undang-undang no.23 tahun 1992 tentang kesehatan menyatakan bahwa dalam keadaan darurat, sebagai upaya menyelamatkan jiwa ibu hamil dan atau janinnya, dapat dilakukan tindakan medik tertentu dan ini dilakukan oleh tenaga kesehatan yang mempunyai keahlian, dengan persetujuan ibu hamil yang bersangkutan atau suami atau keluarganya dan dilakukan pada sarana kesehatan tertentu.
Dalam KUHP secara rinci terdapat pasal-pasal yang mengancam pelaku abortus ilegal sebagai berkut :
a. Wanita yang sengaja menggugurkan kandungan atau menyuruh orang lain melakukannya (KUHP pasal 346, hukuman maksimum 4 tahun).
b. Seseorang yang menggugurkan kandungan wanita tanpa seijinnya (KUHP pasal 347, hukuman maksimum 12 tahun dan bila wanita itu meninggal, hukuman maksimum 15 tahun).
c. Seorang yang menggugurkan kandungan wanita dengan seijin wanita tersebut (KUHP pasal 348, hukuman maksimum 5 tahun 6 bulan dan bila wanita itu meninggal, hukuman maksimum 7 tahun).
d. Dokter, Bidan atau Juru Obat yang melakukan kejahatan di atas (KUHP pasal 349, hukuman ditambah sepertiganya dan pencabutan hak pekerjaannya).
Dalam pasal 80 UU Kesehatan tercantum, bahwa “Barang siapa dengan sengaja melakukan tindakan medis tertentu terhadap ibu hamil yang tidak dalam keadaan darurat sebagai upaya menyelamatkan jiwa ibu dan atau janin yang dikandungnya, dipidana dengan pidana penjara paling lama 15 tahun dan pidana denda paling banyak Rp.500.000.000,- (limaratus juta rupiah)”.

3. Teknologi Reproduksi Buatan
Pada tahun 1978, Steptoe & Edwards melahirkan bayi tabung pertama Louise Brown di Inggris, hasil Fertilisasi In Vitro (FIV) dan Pemindahan Embrio (PE). Ini merupakan terobosan yang telah mengubah dunia kedokteran terutama di bidang reproduksi manusia. Di Indonesia, bayi tabung pertama lahir 10 tahun kemudian (1988) hasil upaya Tim Melati RSAB Harapan Kita Jakarta. FIV dan PE merupakan upaya terakhir untuk menolong pasutri memperoleh keturunannya, karena upaya ini memerlukan biaya yang besar, keberhasilan “take home baby” yang rendah dan menyebabkan distres pada pasutri yang bersangkutan. Selain cara FIV dan PE telah dikembangkan pula teknologi reproduksi buatan lainnya seperti Tandur Alih Gamet atau Embrio Intra Tuba dan Suntikan Sperma Intra Sitoplasmik.
Dari segi hukum, di Indonesia telah terdapat peraturan perundang-undangan tentang kehamilan di luar cara alami itu, yaitu bahwa cara tersebut hanya dapat dilakukan pada pasangan suami istri yang sah, dilakukan oleh tenaga kesehatan yang mempunyai keahlian dan kewenangan untuk itu, dan pada sarana kesehatan yang memenuhi syarat (UU Kesehatan, pasal 16). Dengan demikian, masalah donasi oosit, sperma dan embrio, masalah ibu pengganti adalah bertentangan dengan hukum yang berlaku dan juga etik kedokteran.
Dalam pasal 82 ayat (2) UU Kesehatan tersebut dinyatakan bahwa “Barang siapa melakukan upaya kehamilan di luar cara alami yang tidak sesuai dengan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam pasal 16 ayat (2) dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan atau pidana denda paling banyak Rp.100.000.000,- (seratus juta rupiah)”.

4. Bedah Plastik Selaput Dara
Wanita yang meminta dilakukan bedah plastik selaput dara umumnya berdasarkan berbagai motif. Ada yang ingin memberi kesan kepada suaminya bahwa dirinya masih perawan, sehingga bertujuan menyelamatkan hidup bersama suaminya, padahal pasien pernah melakukan hubungan seksual di luar nikah dengan pria lain. Di Indonesia, masalah keperawanan di malam pertama pengantin baru dianggap penting, walaupun hal ini sebenarnya tidak adil dalam kedudukan wanita dan pria. Ada pula wanita yang minta bedah plastik selaput dara dengan tujuan komersialisasi keperawanan, dengan mengharapkan imbalan yang besar. Dalam hal ini hati nurani dokterlah yang menentukan sikapnya dalam menghadapi godaan dari pasien bersangkutan. Jika robeknya selaput dara disebabkan trauma atau akibat tindakan dilatasi dan kuretase yang dilakukan karena indikasi medik (misalnya pada kasus-kasus perdarahan uterus disfungsional yang menyebabkan anemia berat dan tidak tanggap terhadap terapi medikamentosa), maka dalam hal ini bedah plastik selaput dara masih dapat dibenarkan.

Prosedur penanganan pelanggaran etik kedokteran

Pada tahun 1985 Rapat Kerja antara P3EK, MKEK dan MKEKG telah menghasilkan pedoman kerja yang menyangkut para dokter antara lain sebagai berikut :
1. Pada prinsipnya semua masalah yang menyangkut pelanggaran etik diteruskan lebih dahulu kepada MKEK.
2. Masalah etik murni diselesaikan oleh MKEK.
3. Masalah yang tidak murni serta masalah yang tidak dapat diselesaikan oleh MKEK dirujuk ke P3EK propinsi.
4. Dalam sidang MKEK dan P3EK untuk pengambilan keputusan, Badan Pembela Anggota IDI dapat mengikuti persidangan jika dikehendaki oleh yang bersangkutan (tanpa hak untuk mengambil keputusan).
5. Masalah yang menyangkit profesi dokter atau dokter gigi akan ditangani bersama oleh MKEK dan MKEKG terlebih dahulu sebelum diteruskan ke P3EK apabila diperlukan.
6. Untuk kepentingan pencatatan, tiap kasus pelanggaran etik kedokteran serta penyelesaiannya oleh MKEK dilaporkan ke P3EK Propinsi.
7. Kasus-kasus pelanggaran etikolegal, yang tidak dapat diselesaikan oleh P3EK Propinsi, diteruskan ke P3EK Pusat.
8. Kasus-kasus yang sudah jelas melanggar peraturan perundang-undangan dapat dilaporkan langsung kepada pihak yang berwenang.

Pedoman penilaian kasus-kasus pelanggaran etik kedokteran

Etik lebih mengandalkan itikad baik dan keadaan moral para pelakunya dan untuk mengukur hal ini tidaklah mudah. Karena itu timbul kesulitan dalam menilai pelanggaran etik, selama pelanggaran itu tidak merupakan kasus-kasus pelanggaran hukum. Dalam menilai kasus-kasus pelanggaran etik kedokteran, MKEK berpedoman pada :
1. Pancasila
2. Prinsip-prinsip dasar moral umumnya
3. Ciri dan hakekat pekerjaan profesi
4. Tradisi luhur kedokteran
5. LSDI
6. KODEKI
7. Hukum kesehatan terkait
8. Hak dan kewajiban dokter
9. Hak dan kewajiban penderita
10. Pendapat rata-rata masyarakat kedokteran
11. Pendapat pakar-pakar dan praktisi kedokteran senior.
Selanjutnya, MKEK menggunakan pula beberapa pertimbangan berikut, yaitu :
1. Tujuan spesifik yang ingin dicapai
2. Manfaat bagi kesembuhan penderita
3. Manfaat bagi kesejahteraan umum
4. Penerimaan penderita terhadap tindakan itu
5. Preseden tentang tindakan semacam itu
6. Standar pelayanan medik yang berlaku
Jika semua pertimbangan menunjukkan bahwa telah terjadi pelanggaran etik, pelanggaran dikategorikan dalam kelas ringan, sedang atau berat, yang berpedoman pada :
1. Akibat terhadap kesehatan penderita
2. Akibat bagi masyarakat umum
3. Akibat bagi kehormatan profesi
4. Peranan penderita yang mungkin ikut mendorong terjadinya pelanggaran
5. Alasan-alasan lain yang diajukan tersangka

Bentuk-bentuk sanksi

Dalam pasal 6 PP no.30 tahun 1980 tentang Peraturan Disiplin Pegawai Sipil terdapat uraian tentang tingkat dan jenis hukuman, sebagai berikut :
1. Tingkat hukuman disiplin terdiri dari :
a. Hukuman disiplin ringan
b. Hukuman disiplin sedang, dan
c. Hukuman disiplin berat
2. Jenis hukuman disiplin ringan terdiri dari :
a. Teguran lisan
b. Teguran tulisan, dan
c. Pernyataan tidak puas secara tertulis
3. Jenis hukuman disiplin sedang terdiri dari :
a. Penundaan kenaikan gaji berkala untuk paling lama satu tahun
b. Penurunan gaji sebesar satu kali kenaikan gaji berkala untuk paling lama satu tahun, dan
c. Penundaan kenaikan pangkat untuk paling lama satu tahun
4. Jenis hukuman disiplin berat terdiri dari :
a. Penurunan pangkat pada pangkat yang setingkat lebih rendah untuk paling lama satu tahun
b. Pembebasan dari jabatan
c. Pemberhentian dengan hormat tidak atas permintaan sendiri sebagai Pegawai Negeri Sipil, dan
d. Pemberhentian tidak dengan hormat sebagai Pegawai Negeri Sipil
Pada kasus-kasus pelanggaran etikolegal, di samping pemberian hukuman sesuai peraturan tersebut di atas, maka selanjutnya diproses ke pengadilan.

Kesimpulan

1. Profesi kedokteran adalah profesi kemanusiaan, oleh karena itu etika kedokteran harus memegang peranan sentral bagi para dokter dalam menjalankan tugas-tugas pengabdiannya untuk kepentingan masyarakat.
2. Bidang Obstetri Ginekologi merupakan bidang yang demikian terbuka untuk kemungkinan penyimpangan terhadap nilai-nilai dan norma-norma, sehingga rawan untuk timbulnya pelanggaran etik kedokteran bahkan pelanggaran hukum. Karena itu diperlukan pedoman etik dan peraturan perundang-undangan terkait yang menuntun para dokter / SpOG untuk berjalan di jalur yang benar.
3. Sanksi terhadap pelanggaran etik kedokteran hendaknya diberikan secara tegas dan konsisten sesuai dengan berat ringannya pelanggaran, bersifat mendidik dan mencegah terulangnya pelanggaran yang sama pada masa depan baik oleh yang bersangkutan maupun oleh para sejawatnya.
4. IDI bersama-sama organisasi profesi dokter spesialis dan organisasi kedokteran seminat lainnya, hendaknya dapat meningkatkan komunikasi, informasi dan edukasi secara berkesinambungan, sehinggat setiap anggotanya dan masyarakat umumnya dapat memahami, menghayati dan mengamalkan etika kedokteran.

Kedua: Abortus / Terminasi Kehamilan atas Indikasi Non-Medik

Pendahuluan

Pada kesempatan ini yang akan kita bicarakan adalah masalah terminasi kehamilan (induced abortion), dan bukan gangguan-gangguan dalam kehamilan yang mengakibatkan terminasi kehamilan (miscarriage). Terdapat dua pandangan dunia dan dua sistem pandang nilai terhadap abortus.
Dalam masalah ini terdapat 2 (dua) hal yang harus kita bahas. Pertama, kita ingin mengetahui dasar sistim etika, dari mana masyarakat mengambil kesimpulan tentang apa yang benar, dan apa yang salah. Kedua, kita ingin menerangkan dari mana dasar-dasar sistem etika tersebut.
Terdapat cara yang beraneka ragam dalam memandang dunia di mana kita sekarang hidup, yang akan mebawa kita ke pandangan-pandangan yang sangat bertentangan mengenai abortus.
Abortus, sesungguhnya merupakan suatu contoh yang sangat baik untuk menjawab pertanyaan mengenai pandangan terhadap etika. Abortus adalah suatu masalah, terhadap apa terdapat tanggapan yang kuat, dan terdapat tanggapan yang bertentangan yang amat kuat pula, sehingga menimbulkan tanggapan yang bermacam-macam.
Pada mulanya di Amerika Serikat, seperti halnya telah dianjurkan di indonesia, tiap-tiap rumah sakit atau lembaga kesehatan agar mempunyai sebuah panitia, yang dimintai persetujuannya untuk melakukan tindakan terminasi kehamilan atas indikasi yang telah ditetapkan oleh panitia tersebut. Indikasi yang umum adalah : untuk menyelamatkan hidup wanita hamil atau mempertahankan kehidupan wanita hamil, tetapi kemudian keadaan si janin juga dapat merupakan indikasi untuk terminasi, yang dapat mengakhiri atau membahayakan kehidupannya.

Perubahan-perubahan dalam pandangan tentang terminasi kehamilan

Seorang dokter spesialis obstetri ginekologi (SpOG) selalu menganggap dirinya pertama-tama sebagai seorang dokter. Peran dokter didasarkan suatu pendidikan, latar belakang, dan pengalaman untuk mempertahankan kehidupan dan kesehatan pasiennya yang hamil serta janinnya. Akibatnya, timbul suatu konflik dalam pendidikan, pengalaman dan latar belakang. Hal ini karena terjadinya perubahan-perubahan sosial dalam masyarakat, maka terjadi pula perubahan interpretasi dalam pendidikan, praktek, dan hukum.
Karena perkembangan ilmu pengetahuan kedokteran yang semakin maju dengan pesat, maka terutama dalam subspesialisasi feto-maternal, para SpOG di satu pihak dapat mencegah terjadinya defek-defek berat pada fetus, tetapi juga menyetujui terminasi kehamilan.
Ilmu pengetahuan selalu membawa perubahan dan perubahan ini memiliki dinamika, sehingga terdapatlah suatu perubahan universal dalam praktek kedokteran. Perubahan-perubahan ini mula-mula ditentang dengan sangat secara hukum dan moral.
Ketika population explosion merupakan kenyataan bagi seluruh dunia, praktek kedokteran dan tindakan bedah diselenggarakan untuk membatasi kependudukan. Keluarga Berencana (KB, pendidikan keluarga dalam sikap-sikap yang etis (ethical family counselling), pendidikan seks dan penyediaan alat-alat kontrasepsi, sterilisasi dan abortus sekarang dibicarakan secara terbuka oleh pihak kedokteran secara jujur dan benar kepada para individu atau kelompok-kelompok dalam masyarakat.

Sejarah terminasi kehamilan dalam ilmu falsafah

Pada dasarnya wanita telah melakukan terminasi kehamilannya sejak permulaan sejarah tercatat. Dalam sejarah Yunani dan Romawi, terminasi kehamilan diselenggarakan untuk mengontrol populasi. Dewa-dewa tidak melarangnya dan tidak terdapat hukum negara yang berhubungan dengan hal itu.
Ahli-ahli falsafah Yunani bahkan menganjurkan terminasi, atau tidak melarangnya. Tetapi Phytagoras tidak menyetujui terminasi kehamilan ini, karena ia berpendapat bahwa pada saat fertilisasi, telah masuk suatu Roh. Hipocrates adalah salah seorang pengikutnya, sehingga dalam Sumpah Hipocrates terdapat sanksi terhadap perbuatan abortus / terminasi kehamilan. Hal tersebut tidak dilaksanakan dan ajaran Hipocrates diabaikan, dokter-dokter Yunani dan Romawi tetap melaksanakan terminasi kehamilan atas perminataan para wanita.
Menurut Fletcher dalam pandangannya mengenai kepribadian (personhood), terminasi kehamilan secara moral diperbolehkan.
Konsep mengenai telah memiliki kepribadian atau roh (soul) merupakan pusat dari moralitas, dalam hal diperbolehkan melaksanakn terminasi kehamilan, karena konsep mengenai waktu si embrio atau si janin dimasuki Roh atau memiliki kepribadian merupakan hal yang pokok.
Di dalam ajaran Islam terdapat pula macam-macam aliran, tetapi dengan indikasi medis, baik yang berasal dari ibu maupun yang berasal dari janin, terutama sebagai hasil dari kemajuan subspesialisasi fetomaternal berupa imunologi, amniocentesis, USG dan lain-lain, maka indikasi adalah jelas dan terminasi dapat dilaksanakan.
Abdul Fadi M.Ebrahim (CapeTown, 1999), dari Universitas Natal, Durban, Afrika Selatan, tentang begitu banyaknya STD, berpendapat : para bayi adalah merupakan korban yang paling menyedihkan sebagai akibat revolusi seksual di Afrika Selatan, terutama karena dewasa ini terdapat + 25 macam STD, dengan angka HIV/AIDS yang sangat tinggi.

Konklusi

Pengontrolan reproduksi, sebenarnya harus diselenggarakan sebelum terjadinya pembuahan. Menurut pandangan Islam, untuk mencegah kelahiran seorang anak yang cacat, sebaiknya digunakan cara-cara kontrasepsi daripada memilih terminasi kehamilan.
Dalam suatu debat mengenai terminasi kehamilan ada sebuah kata yang dianggap sangat penting. Kehidupan (life), kehidupan potensial (potential life) dan hidup (alive). Ada yang berpendapat bahwa embrio atau janin adalah hidup (alive) atau memiliki kehidupan manusia yang hidup. Dalam hal ini apakah janin memiliki kehidupan sebagai manusia (life) atau memiliki kehidupan yang potensial sebagai manusia (potential life).
Yang juga membingungkan adalah kata janin dan embrio. Secara emosional janin akan lebih berarti jika dibandingkan dengan embrio.

Alasan-alasan untuk permintaan terminasi kehamilan

Keadaan ketakutan dan panik yang sering dialami dalam suatu kehamilan, adalah :
1. Kehamilan akibat perkosaan
2. Janin yang telah terbukti memiliki defek yang berat
3. Ibu yang dalam riwayatnya selalu menyiksa anak-anaknya
4. Tiap kehamilan yang menyebabkan emotional distress pada wanita, atau akan mengakibatkan ketidakmampuan atau akan mempersulit kehidupan anak yang akan dilahirkan
Semua ini mengakibatkan usaha dilakukannya terminasi kehamilan.
Hal tersebut mengakibatkan suatu konsep : abortion on demand. Keadaan ini digunakan oleh mereka yang pro-abortus (pro-choice), karena melihatnya sebagai suatu justifikasi (pembenaran) untuk mendahului hak dan kebutuhan wanita hamil di atas hak dan kebutuhan si janin. Bagi mereka yang anti-abortus (pro-life), mereka juga menggunakan keadaan tersebut sebagai alasan moral yang menyatakan bahwa kehidupan si janin lebih penting daripada wanita yang mengandungnya.

Status dari janin (fetus)

Yang menjadi pokok persoalan dalam masalah terminasi kehamilan berupa : mana yang lebih penting, hak si janin atau hak si wanita hamil. Untuk menjawab masalah ini, kita harus memandang status si janin, apakah ia harus dianggap sebagai kepribadian (a person) atau sebagai manusia (a human person).
Suatu hal yang perlu diketengahkan adalah : apakah si janin telah memiliki roh / jiwa (soul), ya atau tidak. Tentang hal ini, ada beberapa ajaran dalam agama. Agama Katolik berpendapat, ya, janin sudah memiliki jiwa sejak saat fertilisasi. Ada yang berpendapat, antara lain beberapa ajaran Islam, bahwa baru pada saat kelahiran, seorang neonatus mempunyai jiwa.
Pada waktu dilahirkan, janin telah menjadi seorang manusia, yang telah berhak akan kewajiban moral terhadapnya. Sehingga terdapat perbedaan yang besar antara terminasi kehamilan dan infanticide.
Terjelmanya seorang manusia memiliki dua sifat :
1. Seorang manusia mempunyai kesadaran akan dirinya, yang sebenarnya baru timbul kemudian.
2. Seorang neonatus akan memasuki suatu lingkungan sosial, antara lain dalam keluarganya.
Sebagai kesimpulan : kelompok konservatif percaya bahwa si janin memiliki status moral yang penuh, seperti seseorang yang telah lahir. Kelompok liberal beranggapan bahwa janin tidak memiliki status moral.

Alasan-alasan mengapa seorang wanita
memilih terminasi kehamilan (induced abortion)

Di Amerika Serikat, seorang wanita memilih terminasi kehamilan, karena ia tidak ingin melanjutkan kehamilannya, dengan alasan bahwa memilikii anak dalam kehidupannya dapat mengakibatkan masalah-masalah yang kompleks, sehingga kualitas hidupnya terancam.
Alasan-alasannya, biasanya pertimbangan pragmatis, sedangkan pembenaran (justifikasinya) mengikutsertakan etika, moral dan juga sering sekali rasional.
Dengan bermacam-macam alasan seorang wanita memilih terminasi kehamilan :
1. Ia mungkin seorang yang menjadi hamil di luar pernikahan
2. Pernikahannya tidak kokoh seperti yang ia harapkan sebelumnya
3. Ia telah cukup anak, dan tidak mungkin dapat membesarkan seorang anak lagi
4. Janinnya ternyata telah terpapar (exposed) pada suatu substansi teratogenik.
5. Ayah anak yang dikandungnya bukan suaminya
6. Ayah anak yang dikandungnya bukan pria / suami yang diidamkan untuk perkawinannya
7. Kehamilannya adalah akibat perkosaan
8. Wanita yang hamil menderita penyakit yang berat
9. Ia memiliki alasan eugenik, ingin mencegah lahirnya bayi dengan cacat bawaan
Indikasi-indikasi tersebut di atas dapat dibagi menjadi 4 (empat) bagian :
1. Alasan kesehatan
2. Alasan mental
3. Alasan cacat bawaan si janin
4. Alasan seksual

Terminasi kehamilan dipandang dari segi hukum

Amerika Serikat dan banyak negara maju, berkesimpulan bahwa seorang warga negara berhak akan privacy, termasuk hak wanita untuk mengontrol tubuhnya. Negara sekarang tidak lagi berintervensi atau mencegah seorang wanita memperoleh pelaksanaan terminasi kehamilan terutama sebelum kehamilan berusia 22 minggu (WHO).
Debat mengenai abortus (terminasi kehamilan) berkisar pada seksualitas, karena di dalam masyarakat masih banyak warga yang berpandangan sangat puritan terhadap seks.
Menurut Williams Obstetrics, 18th ed., 1989, dokter / SpOG yang berlatar belakang ilmu kedokteran, ilmu filsafat dan teologi, tidak dapat sampai pada konsensus kapan kehidupan itu dimulai. Pada hal tersebut, terutama dengan kemampuan ilmu yang sedang berkembang pesat, belum dapat diperoleh jawaban.

Kesimpulan

Di negara-negara dengan rasio abortus / terminasi kehamilan yang tinggi, jumlah terminasi secara drastis menurun, karena tersedianya bermacam-macam cara kontrasepsi.
Ternyata legalitas abortus / terminasi kehamilan dan akses terhadap pelayanannya tidak mengakibatkan terjadinya peningkatan hal ini untuk kontrol fertilitas.
Kekerapan terminasi kehamilan di dunia + 180 juta kasus per tahun. Tingginya jumlah ini biasanya akibat kehamilan yang tidak diinginkan (unwanted pregnancies) tidak hanya di negara maju, tetapi juga di negara berkembang, meskipun penggunaan cara-cara KB sudah sangat maju.
Ternyata di negara-negara di mana hukum membatasi tindakan terminasi, tindakan abortus / terminasi kehamilan di negara tersebut masih kira-kira 30 dalam 1000 kehamilan per tahun.
Antara negara-negara Islam, Tunisia yang paling maju, yang melegalisasi terminasi kehamilan dalam trimester pertama, sedangkan di negara-negara Amerika Latin terdapat kecenderungan memperoleh keluarga kecil (small family), sedangkan ternyata kegiatan seksual sebelum nikah, terutama di kalangan remaja, terus meningkat, sehingga keputusan sidang Perserikatan Bangsa-Bangsa baru-baru ini yang menerima usulan tentang hak fertilitas wanita dan kebutuhan pendidikan seks, merupakan kemajuan dalam hal terjadinya terminasi kehamilan / abortion for non-medical reasons dapat dibenarkan.

Ketiga: Ethical Guidelines Regarding Induced Abortion
for Non-Medical Reasons

1. Induced abortion may be defined as the termination of pregnancy using drugs or surgical intervention after implantation, and before the conceptus have become independently viable (WHO definition of a birth : 22 weeks menstrual age or more).

2. Abortion is very widely considered to be ethically justified when undertaken for medical reasons to protect the life and health of the mother in cases of molar or ectopic pregnancies and malignant disease. Most people would also consider it to be justified in cases of incest or rape, or when the conceptus is severely malformed, or when the mother’s life is threatened by other serious disease.

3. The use of abortion for other social reasons remains very controversial because of the ethical dillemas it present to both women and the medical team. Women frequently agonize over their difficult choice, making what they regard in the circumstances to be the least worse decision. Health care providers wrestle with the moral values of preserving life, of providing care to women and of avoiding unsafe abortions.

4. In those countries where it has been measured, it has been found that half of all pregnancies are unintended, and that half of these pregnancies end in termination. These are matters of grave concern, in particular to the medical profession.

5. Abortions for non-medical reasons when properly performed, particularly during the first trimester when the vast majority take place, are in fact safer than term deliveries.

6. However, the World Health Organization has estimated that nearly half the 50 million induced abortions performed around the world each year are unsafe because they are undertaken by unskilled persons and/or in an unsuitable environment.

7. The mortality following unsafe abortion is estimated to be very many times greater than when the procedure is performed in a medical environment. At least 75,000 women die unnecessarily each year after unsafe abortion and very many more suffer life-long ill-health and disability, including sterility.

8. Unsafe abortion has been widely practiced since time immemorial. Today it occurs mainly in countries with restrictive legislation with respect to the terminatio9n of pregnancy for non-medical reasons. Countries with poorly developed health services and where women are denied the right to control their fertility also have higher rates of unsafe abortion.

9. When countries have introduced legislation to permit abortion for non-medical reasons, the overall mortality and morbidity from the procedure has fallen dramatically, without any significant increase in terminations.

10. In the past most pregnancy terminations were undertaken surgically, however recent pharmaceutical developments have made it possible to bring about safe medical abortion in early pregnancy.

11. In addition, the reproductive process can be interrupted before pregnancy begins by classical contraceptive methods or by the more recently popularized emergency contraception. The latter is not an abortificant because it has its effect prior to the earliaest time of implantation. Nevertheless these procedures may not be acceptable to some people who hold particular religious views.

Recommendations

1. Goverments and other concerned organizations should make every effort possible to improve women’s rights, status, and health, and should try to prevent unintended pregnancies by education (including on sexual matters), by counselling, by making available reliable information and services on family planning, and by developing more effective contraceptive methods. Abortion should NEVER be promoted as a method of family planning.

2. Women have the right to make a choice on whether or not to reproduce and should therefore have access to legal, safe, effective, acceptable and affordable methods of contraception.

3. Providing the process of properly informed consent has been carried out, a woman’s right to autonomy, combined with the need to prevent unsave abortion, justifies the provision of safe abortion.

4. Most people, including physicians, prefer to avoid termination of pregnancy and it is with regret that they may judge it to be the best course, given a woman’s circumstances. Some doctors feel that abortion is not permissible whatever the circumstances. Respect for their autonomy means that no doctor (or other members of the medical team) should be expected to advise or perform an abortion against his or her personal conviction. Their careers should never be prejudiced as a result. Such a doctor, however, has an obligation to refer the woman to a colleague who is not in principle opposed to terminations.

5. Neither society, nor members of the health care team responsible for counselling women, have the right to impose their religious or cultural convictions regarding abortion on those whose attitudes, are different. Counselling should include objective information.

6. Very careful counselling is required for minors. When competent to give informed consent, their wishes should be respected. When they are not considered competent, the advice of the parents or guardians and when appropriate the courts, should be considered before determining management.

7. The termination of pregnancy for non-medical reasons is best provided by the health care service on a non-profit making basis. Post-abortion counselling on fertility control should always be provided.

8. In summary, the Committee recommended that, after appropriate counselling, a woman has the right to have access to medical or surgical induced abortion, and that the healthcare service had an obligation to provide such services as safely as possible.

Cairo, March, 1998
FIGO Committee Report for the Ethical Aspects of Human Reproduction and Women’s Health

Juli 12, 2008 Posted by | kuliahbidan | Tinggalkan komentar

Ilmu Kebidanan

Obstetri merupakan cabang ilmu kedokteran yang berhubungan dengan persalinan, hal-hal yang mendahuluinya dan gejala-gejala sisanya (Oxford English Dictionary, 1933). Obstetri terutama membahas tentang fenomena dan penatalaksanaan kehamilan, persalinan puerperium baik pada keadaan normal maupun abnormal. Nama lain obstetri adalah mid wifery.

Tujuan obstetri yaitu agar supaya setiap kehamilan yang diharapkan dan berpuncak pada ibu dan bayi yang sehat. Juga berusaha keras mengecilkan jumlah kematian wanita dan bayi sebagai akibat proses reproduksi atau jumlah kecacatan fisik, intelektual dan emosional yang diakibatkannya.

Statistik Vital Obstetri

Statistik vital obstetri meliputi:
1. Kelahiran
2. Angka kelahiran
3. Angka fertilitas
4. Kelahiran hidup
5. Lahir mati (still birth)
6. Kematian neonatal
7. Angka lahir mati
8. Angka kematian janin (sama dengan angka lahir mati)
9. Angka kematian neonatal
10. Angka kematian perinatal
11. Berat badan lahir rendah
12. Bayi cukup bulan (term infant)
13. Bayi kurang bulan (prematur)
14. Bayi lewat bulan (post term)
15. Abortus
16. Kematian ibu langsung (direct maternal death)
17. Kematian ibu tak langsung (indirect maternal death)
18. Kematian non maternal
19. Angka kematian ibu atau mortalitas ibu (maternal death rate atau maternal
mortality).

Kelahiran

Kelahiran adalah ekspulsi atau ekstraksi lengkap seorang janin dari ibu tanpa memperhatikan apakah tali pusatnya telah terpotong atau plasentanya masih berhubungan. Berat badan lahir adalah sama atau lebih 500 gram, panjang badan lahir adalah sama atau lebih 25 cm, dan usia kehamilan sama atau lebih 20 minggu.

Angka Kelahiran

Angka kelahiran adalah jumlah kelahiran per 1000 penduduk.

Angka Fertilitas

Angka fertilitas adalah jumlah kelahiran hidup per 1000 populasi wanita usia 15-44 tahun.

Kelahiran Hidup

Tanda utama kelahiran hidup adalah neonatus dapat bernapas. Tanda-tanda kehidupan lainnya meliputi denyut jantung dan gerakan spontan yang jelas dari otot volunter.

Lahir Mati (Still Birth)

Lahir mati ditandai oleh tidak ada satupun tanda-tanda kehidupan pada saat atau setelah kelahiran.

Kematian Neonatal

Kematian neonatal terdiri atas kematian neonatal dini dan kematian neonatal lanjut. Kematian neonatal dini adalah kematian seorang bayi yang dilahirkan hidup dalam 7 hari setelah kelahiran. Kematian neonatal lanjut adalah kematian seorang bayi yang dilahirkan hidup lebih 7 hari sampai kurang 29 hari.

Angka Lahir Mati

Angka lahir mati adalah jumlah bayi yang dilahirkan mati per 1000 bayi yang lahir.

Angka Kematian Neonatal

Angka kematian neonatal adalah jumlah kematian neonatal per 1000 kelahiran hidup.

Angka Kematian Perinatal

Angka kematian perinatal adalah jumlah bayi lahir mati ditambah kematian neonatal per 1000 kelahiran total.

Berat Badan Lahir Rendah

Berat badan lahir rendah adalah berat badan lahir kurang 2500 gram.

Bayi Cukup Bulan

Bayi cukup bulan adalah bayi yang dilahirkan dengan usia kehamilan 37-42 minggu atau 260-294 hari.

Bayi Kurang Bulan (Prematur)

Bayi kurang bulan adalah bayi yang dilahirkan dengan usia kehamilan kurang 37 minggu.

Bayi Lewat Bulan

Bayi lewat bulan adalah bayi yang dilahirkan dengan usia kehamilan lebih 42 minggu.

Abortus

Abortus adalah pengambilan atau pengeluaran janin atau embrio dari uterus selama paruh pertama masa kehamilan (20 minggu atau kurang) atau berat badan lahir kurang 500 gram atau panjang badan lahir 25 cm atau kurang.

Kematian Ibu Langsung

Kematian ibu langsung disebabkan komplikasi obstetri dari kehamilan, persalinan atau puerperium dan akibat intervensi, kelahiran, dan terapi tidak tepat.

Kematian Ibu Tak Langsung

Kematian ibu tak langsung disebabkan oleh penyakit yang timbul selama kehamilan, persalinan atau puerperium dan diperberat oleh adaptasi fisiologis ibu terhadap kehamilan. Misalnya kematian ibu karena komplikasi stenosis mitral.

Kematian Non Maternal

Kematian non maternal disebabkan oleh kecelakaan atau faktor kebetulan yang sama sekali tidak berhubungan dengan kehamilan.

Angka Kematian Ibu

Angka kematian ibu adalah jumlah kematian ibu akibat proses reproduktif per 100.000 kelahiran hidup.

Sebab-sebab umum kematian ibu yaitu :
1. Perdarahan
2. Hipertensi
3. Infeksi

Perdarahan

Perdarahan yang dapat menyebabkan kematian ibu terdiri atas perdarahan post partum, perdarahan berkaitan abortus, perdarahan akibat kehamilan ektopik, perdarahan akibat lokasi plasenta abnormal atau ablasio plasenta (plasenta previa dan absupsio plasenta), dan perdarahan karena ruptur uteri.

Hipertensi

Hipertensi yang dapat menyebabkan kematian ibu terdiri atas hipertensi yang diinduksi kehamilan dan hipertensi yang diperberat kehamilan. Hipertensi umumnya disertai edema dan proteinuria (pre eklamsia). Pada kasus berat disertai oleh kejang-kejang dan koma (eklamsia).

Infeksi

Infeksi nifas atau infeksi panggul post partum biasanya dimulai oleh infeksi uterus atau parametrium tetapi kadang-kadang meluas dan menyebabkan peritonitis, tromboflebitis dan bakteriemia.

Alasan menurunnya angka kematian ibu :
- Transfusi darah
- Anti mikroba
- Pemeliharaan cairan elektrolit, keseimbanngan asam-basa pada komplikasi-
komplikasi serius kehamilan dan persalinan.

Kematian reproduktif adalah kematian akibat kehamilan dan penggunaan teknik-teknik untuk mencegah kehamilan (teknik kontrasepsi).

Kematian Perinatal

Kematian neonatus yang terbanyak adalah :
1. Berat badan lahir rendah
2. Cedera susunan saraf pusat akibat hipoksia in utero dan cedera traumatik
selama persalinan dan kelahiran
3. Malformasi kongenital

Sumber :
Cunningham, Mac Donald, Gant. Obstetri Williams, ed. ke-18. dr. Joko Suyono & dr. Andry Hartono (penerj.). Jakarta : EGC.

Juli 12, 2008 Posted by | Kebidanan, kuliahbidan | | Tinggalkan komentar

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.